Wilayah Berisiko Tinggi Sinkhole di Indonesia
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap fenomena sinkhole atau tanah ambles. Fenomena ini terutama terjadi pada kawasan yang tersusun atas lapisan batu gamping atau karst. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kabupaten Gunungkidul menjadi fokus utama karena karakteristik geologinya yang unik, dengan lapisan karst yang menyimpan risiko bencana nyata bagi pemukiman maupun aktivitas wisata.
Fenomena ini kembali menjadi perbincangan setelah amblesnya tanah di Kecamatan Rongkop pada 2025, yang menciptakan lubang raksasa dengan kedalaman lebih dari 10 meter dan diameter tiga meter. Hal ini menunjukkan bahwa bahaya sinkhole tidak bisa diabaikan.
Penjelasan Ahli tentang Sinkhole di Gunungkidul
Guru Besar Bidang Geologi Fakultas Teknik UGM Yogyakarta, Wahyu Wilopo, menjelaskan bahwa kejadian sinkhole di Gunungkidul bukanlah hal yang mengejutkan secara ilmiah. Menurutnya, fenomena ini hampir muncul setiap tahun, terutama saat musim penghujan. Munculnya “sinduli” atau lubang-lubang kecil berdiameter satu hingga tiga meter di wilayah Pegunungan Sewu hingga Pacitan, Jawa Timur, adalah contoh nyata dari fenomena ini.
Menurut Wahyu, struktur batu gamping yang mudah larut oleh air menciptakan rongga-rongga bawah tanah yang sulit diprediksi secara kasat mata. Ini membuat daerah-daerah seperti Gunungkidul rentan terhadap kejadian sinkhole yang bisa terjadi kapan saja.
Bahaya Menggunakan Sinkhole sebagai Obyek Wisata
Wahyu memberikan peringatan keras terhadap penggunaan lokasi sinkhole sebagai objek wisata karena risiko keselamatan yang sangat tinggi. “Untuk kawasan wisata itu bahaya, risiko itu selalu ada karena proses pengikisan terus terjadi di bawah tanah,” ujarnya.
Aktivitas manusia yang berkumpul di atas lubang atau di sekitar bibir sinkhole dapat memicu keruntuhan mendadak. “Kita tidak tahu kapan runtuhnya. Pada waktu ada orang datang berwisata melihat lubang, kemudian banyak penambahan beban di atasnya, jika tidak kuat ya bisa runtuh. Itu memang harus sangat berhati-hati sekali, sehingga rekomendasinya jangan dikunjungi,” tambahnya.
Ancaman terhadap Permukiman Warga
Fenomena ini juga mengancam permukiman warga, di mana beberapa kasus sinkhole muncul tepat di dalam rumah atau area pekarangan. Wahyu menyarankan agar warga yang terdampak segera mengungsi hingga dipastikan kondisi bawah tanahnya melalui studi detail.
Upaya warga untuk langsung menimbun lubang dengan tanah juga dinilai berisiko sia-sia atau bahkan berbahaya jika ternyata di bawahnya terdapat aliran sungai bawah tanah yang aktif. “Kalau itu jalur sungai bawah tanah dan kita tutup, airnya akan bergeser ke arah lain atau terowongannya terbendung. Jika diuruk tanpa tahu dimensinya, material urukan bisa hanyut terbawa aliran air bawah tanah, sehingga suatu saat bisa runtuh tiba-tiba lagi,” kata Wahyu.
Ia menambahkan bahwa material tanah yang masuk ke sistem karst juga dapat mencemari kualitas air bawah tanah menjadi keruh karena meningkatnya kandungan padatan terlarut.
Upaya Pemetaan Risiko oleh Pemerintah DIY
Untuk memetakan risiko lebih lanjut, Pemerintah DIY bersama BPPTKG Yogyakarta berencana melakukan uji geolistrik di lokasi terdampak. Langkah ini disambut para pakar untuk mengetahui dimensi lubang dan apakah terdapat anomali berupa rongga yang luas di kedalaman tertentu.
“Hasil geolistrik nanti bisa mengestimasi dimensi lubang. Jika ternyata rongganya melebar ke mana-mana, tindakan menambal dengan semen atau tanah akan sia-sia, seperti menggarami laut,” ujar Wahyu.
Hingga hasil studi teknis keluar, masyarakat diimbau untuk waspada terhadap tanda-tanda awal sinkhole. Seperti munculnya retakan melingkar, genangan air yang tiba-tiba hilang ke dalam tanah, atau lembah kecil yang ambles secara perlahan.