26 April 2026
AA1UuJi1.jpg



Pertandingan semifinal Piala Asia U-23 2026 akan menjadi momen penting bagi beberapa tim, termasuk Timnas U-23 Vietnam yang akan menghadapi Timnas U-23 China di Stadion Prince Abdullah Al-Faisal Sports City, Jeddah, pada Selasa (20/1/2026) pukul 22.30 WIB. Sementara itu, laga lainnya akan mempertemukan Timnas U-23 Jepang melawan Timnas U-23 Korea Selatan di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, pada waktu yang sama pukul 18.30 WIB.

Sebelum pertandingan dimulai, penampilan Timnas U-23 Vietnam mendapat perhatian dan apresiasi dari berbagai ahli sepak bola regional. Salah satu komentator ternama asal Tiongkok, Huang Jianxiang, memberikan pujian tinggi terhadap gaya bermain dan perkembangan sepak bola muda Vietnam. Ia menyebut bahwa performa tim asuhan pelatih Kim Sang-sik layak diacungi jempol.

Setelah kemenangan dramatis Vietnam atas Uni Emirat Arab di babak perempat final, Huang Jianxiang mengungkapkan rasa kagumnya terhadap cara tim muda Golden Star Warriors mengatur permainan mereka. “Saat menonton Vietnam bermain, saya sering merasa seperti sedang menonton Jepang,” ujarnya. “Mereka terorganisir dengan baik, memainkan umpan-umpan pendek, terus bergerak, dan mengendalikan permainan dengan teknik yang baik.”

Huang Jianxiang, yang telah meliput lebih dari 2000 pertandingan di saluran televisi Tiongkok, menilai bahwa penampilan Timnas U-23 Vietnam bukanlah fenomena sesaat. Ia menilai bahwa ini adalah hasil dari proses pengembangan jangka panjang. “Ini adalah bukti nyata dari prestasi yang telah diraih selama dekade terakhir, menunjukkan bahwa kita berada di jalur yang benar dalam membangun dan mengembangkan sepak bola Vietnam,” katanya.

Menurutnya, Vietnam berhasil mengungguli lawannya, memaksa UEA untuk mundur dan bertahan. Selain itu, jumlah peluang yang diciptakan oleh Vietnam juga lebih banyak dibandingkan lawan mereka.

Selain memuji permainan kolektif, Huang Jianxiang juga menyoroti peran individu-individu yang menonjol di skuad Timnas U-23 Vietnam. Di antara pemain tersebut, striker nomor 7, Nguyen Dinh Bac, dianggap sebagai titik terang di lini serang karena teknik, kepercayaan diri, dan kemampuannya menciptakan terobosan.

Namun, ia juga menyoroti tantangan mendasar sepak bola Vietnam, yaitu soal kebugaran fisik. Menurutnya, masalah ini berakar pada dasar seleksi dan pelatihan pemain, dan sulit untuk diperbaiki dalam jangka pendek. Meski demikian, ia percaya bahwa Vietnam dapat mengejar solusi jangka panjang, mulai dari mengembangkan kebugaran fisik alami pada pemain muda hingga pendekatan seperti pemain keturunan dan naturalisasi.

Di sisi lain, keterampilan teknis adalah elemen yang dapat ditingkatkan secara proaktif melalui pelatihan yang sistematis dan konsisten. “Mengingat tingkat kemampuan teknis mereka saat ini, Vietnam sepenuhnya layak berada di 4 besar kompetisi ini,” kata Huang Jianxiang.

Sebagai informasi, Vietnam sukses melaju ke semifinal setelah mengalahkan Uni Emirat Arab dengan skor dramatis 3-2. Kedua tim terus saling berbalas gol sepanjang waktu normal pertandingan (90 menit). Kemenangan skuad muda Golden Star Warriors diraih berkat gol yang dicetak Pham Minh Phuc di menit 101.

Sementara itu, China lolos ke semifinal setelah bermain hingga babak adu penalti kontra Uzbekistan (menang 4-2). Dibandingkan dengan China, Vietnam memiliki keuntungan soal waktu istirahat yang lebih panjang. Namun, China tentu tidak bisa dianggap remeh mengingat mereka adalah tim yang paling kokoh dalam bertahan (belum pernah kebobolan selain adu penalti).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *