22 April 2026
Designer (1)

Temuan Empat Kasus Positif HIV/AIDS di Wilayah Penambangan Rakyat Baya Biru

Laporan terbaru menunjukkan bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai, Papua Tengah, telah mengumumkan temuan empat kasus positif HIV/AIDS pada wanita pekerja seks komersial yang beraktivitas di lokalisasi wilayah Penambangan Rakyat Baya Biru. Pengumuman ini disampaikan oleh Kepala Bidang P2P Dinkes Paniai, Beny Degei, pada Jumat (16/1/2026).

Ini merupakan tindak lanjut dari pemeriksaan intensif terhadap populasi khusus tersebut yang dilakukan pada Desember 2025. Beny Degei menjelaskan bahwa pemeriksaan ini dilakukan sebagai bagian dari kegiatan skrining kesehatan yang dilaksanakan selama dua hari, yakni 8–9 Desember 2025, yang dipusatkan di Puskesman Baya Biru dan area lokalisasi.

Dari total 80 wanita pekerja seks komersial yang diperiksa, empat di antaranya dinyatakan positif HIV/AIDS. Awalnya, skrining awal menemukan tujuh orang dengan hasil positif HIV/AIDS. Namun, setelah melalui pemeriksaan kedua di laboratorium, hanya empat orang yang dinyatakan terkonfirmasi positif HIV/AIDS. Sementara itu, tiga orang lainnya masih harus menjalani pemeriksaan ulang pada Maret 2026 mendatang.

Empat orang yang dinyatakan positif saat ini sudah mendapatkan pengobatan Antiretroviral (ARV). Mereka menjalani perawatan di Puskesmas Wonorejo, Kabupaten Nabire, sesuai permintaan pasien. “Kami telah menjalin kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire untuk penanganan pasien kami,” jelas Beny Degei di kantornya, Jalan Poros Enaro-Madi, Paniai Timur.

Risiko Tinggi Penularan di Kawasan Penambangan

Beny Degei mengaku sangat khawatir dengan kondisi tersebut, mengingat potensi penularan di wilayah Baya Biru dinilai sangat tinggi. Ia menyoroti praktik prostitusi yang telah berlangsung puluhan tahun dan mobilitas penduduk yang tinggi di kawasan penambangan emas. “Dari hasil wawancara kami dengan para pekerja seks, mereka mengaku tidak selalu menggunakan pengaman karena alasan bayaran, tempat tinggal, dan faktor lainnya,” ungkap Beny.

Kekhawatiran utama adalah potensi penyebaran ke masyarakat luas. Beny memperingatkan bahwa setelah dari lokasi penambangan, para pekerja seks pulang ke daerah masing-masing dan berhubungan dengan pasangan atau istri sah mereka, yang berpotensi memperluas penyebaran HIV/AIDS. Kondisi ini diperkuat oleh kesaksian salah satu warga setempat, Selpianus Makipa. Ia menyebutkan, “Sejak penambangan emas dibuka, masyarakat asli Baya Biru banyak yang meninggal. Kami menduga kuat akibat penyakit AIDS,” ujarnya dengan nada sedih.

Kolaborasi Penanganan dan Imbauan Kesehatan

Menanggapi situasi ini, Dinkes Kabupaten Paniai akan berkolaborasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Paniai, pemerintah distrik, kepala kampung, dan tokoh masyarakat untuk menekan laju penyebaran. Dinkes berkomitmen melakukan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS, pemeriksaan darah secara berkala, dan memastikan pasien positif mendapatkan pengobatan ARV di fasilitas kesehatan seperti RSUD Paniai dan Puskesmas Enarotali.

Beny Degei juga mengimbau masyarakat untuk menghindari pengobatan non-resmi. “Konsumsi obat herbal yang tidak teruji bisa berbahaya bagi kesehatan, berpotensi merusak ginjal, pankreas, dan organ tubuh lainnya. Pengobatan HIV/AIDS harus melalui layanan kesehatan resmi,” tegasnya.

Upaya Penguatan Layanan Kesehatan

Upaya penguatan layanan kesehatan ini merupakan bagian dari komitmen Dinas Kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Paniai secara merata dan berkualitas. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:

  • Pelaksanaan skrining kesehatan rutin terhadap populasi rentan
  • Peningkatan edukasi masyarakat tentang pencegahan HIV/AIDS
  • Kerja sama dengan lembaga kesehatan lain dalam memberikan pengobatan yang tepat
  • Pemantauan terhadap penyebaran penyakit dan upaya penanganannya

Dengan kolaborasi yang baik dan kesadaran masyarakat yang meningkat, diharapkan dapat menekan penyebaran HIV/AIDS di wilayah Paniai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *