Fenomena ‘Nganggur’ di Kalangan Atlet Voli Putra Nasional
Di H-2 digelarnya kompetisi elite bola voli Indonesia, Proliga 2026, terjadi fenomena yang cukup mengejutkan. Banyak atlet voli putra nasional, termasuk para penggawa aktif Timnas Voli Putra Indonesia, tidak memiliki tim untuk berlaga di ajang ini. Kata ‘nganggur’ mungkin terdengar aneh, tetapi dalam konteks ini, mereka memang tidak bisa tampil di Proliga meskipun masih menjalani aktivitas sebagai atlet.
Kondisi ini terjadi karena minimnya jumlah tim peserta Proliga 2026 yang tidak mampu mengakomodir semua pevoli nasional. Banyak dari mereka yang sebenarnya memiliki kualitas tinggi harus menepi sementara dari euforia Proliga. Contohnya adalah Aji Maulana, mantan setter Timnas Voli Indonesia, yang tidak kebagian tim pada musim ini. Begitu juga dengan Wismoyojati, tosser muda asal Kebumen, Jawa Tengah, yang terdampak karena mundurnya Palembang Bank SumselBabel dari Proliga.
Dari skuad Timnas Voli Indonesia untuk SEA Games 2025 Thailand, Jordan Susanto dan Kristoforus Sina juga tidak memperkuat tim manapun. Bahkan Rivan Nurmulki, opposite asal Jambi, pernah mengakui bahwa tidak ada tim yang mengajaknya berpartisipasi di Proliga 2026, sehingga ia memilih bermain di luar negeri.
PBVSI Menghadapi Tantangan Berat
Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PP PBVSI) tidak sepenuhnya buta terhadap masalah ini. Mereka sempat memperpanjang tenggang waktu pendaftaran untuk menambah jumlah tim putra pada Proliga 2026. Awalnya hanya 4 tim yang terdaftar, yaitu Jakarta Bhayangkara Presisi, Jakarta LavAni, Surabaya Samator, dan Jakarta Garuda. Bahkan Jakarta Garuda merupakan tim yang dibentuk khusus oleh PBVSI.
PBVSI juga melakukan lobi dan negosiasi melalui Ketua Umum Imam Sudjarwo untuk menggaet lebih banyak tim voli putra. Namun, hingga saat ini, hanya satu tim saja yang berhasil bergabung, yakni Medan Falcons Tirta Bhagasasi, yang berkompetisi di Livoli Divisi Utama pada edisi 2025.
Dengan hanya 5 tim yang berpartisipasi, jumlah ini jauh dari ideal untuk Proliga 2026 yang akan memperebutkan tiket lolos ke final four dan grand final.
Dampak Minimnya Jumlah Tim
Minimnya jumlah tim berdampak langsung terhadap pevoli putra, baik yang sudah malang melintang di Proliga maupun talenta baru. Semakin sedikit tim, semakin sedikit pula kesempatan bagi atlet untuk mendapatkan kompetisi sebagai wadah mengasah kualitas dan jam terbang.
Pandangan Eks Timnas Agung Seganti
Mantan penggawa Timnas Voli Putra Indonesia, Agung Seganti, memberikan pandangan tentang fenomena ini. Ia menyatakan bahwa faktor finansial menjadi salah satu penyebab utama tim-tim voli putra enggan ambil bagian di Proliga.
“Kompetisi Proliga didominasi oleh klub-klub dengan kekuatan finansial yang kuat,” ujar Agung Seganti, yang pernah bermain di beberapa klub seperti Sidoarjo Aneka Gas, Palembang Bank SumselBabel, Jakarta Pertamina Energi, dan Kudus Sukun Badak.
Ia berharap PBVSI dapat mencari solusi agar masalah ini bisa diatasi di masa depan. “Harapannya ada regulasi atau cara menekan budget, supaya tim-tim lain juga bisa ikut Proliga. Tujuannya jelas supaya pemain lokal dan yang masih muda bisa aktif bermain.”
Selain itu, Agung Seganti menyarankan PBVSI untuk membantu klub mendapatkan sponsor agar beban finansial mereka bisa sedikit berkurang.