21 April 2026
66f4bf92db6e8_20240926085738-1.jpg

Perkembangan Pasar Logam Mulia di Awal Tahun 2026

Pasar logam mulia, khususnya emas, menunjukkan momentum yang kuat sejak awal tahun 2026. Harga emas spot terpantau stabil di kisaran USD 4.313,29 per ons pada perdagangan Sabtu, 3 Januari 2026. Meski demikian, harga sempat melonjak hingga mencapai level USD 4.402,06 per ons pada awal sesi perdagangan. Sebelumnya, emas batangan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di posisi USD 4.549,71 per ons pada 26 Desember 2025, dengan kenaikan spektakuler sekitar 64% sepanjang 2025.

Di sisi lain, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari justru ditutup melemah tipis 0,3% ke level USD 4.329,6 per ons. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun emas tetap menjadi pilihan investasi utama, fluktuasi pasar juga tidak dapat dihindari.

Faktor Utama Kenaikan Harga Emas

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menjelaskan bahwa arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi faktor utama dalam kenaikan harga emas. Diskusi mengenai potensi pemangkasan suku bunga pada Maret dan kemungkinan penurunan lanjutan di akhir tahun, serta kekhawatiran terkait risiko tarif dan persoalan utang AS, menjadi dorongan utama.

Pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan menurunkan suku bunga setidaknya dua kali, masing-masing sebesar seperempat poin. Kondisi ini membuat emas, yang tidak menawarkan imbal hasil bunga, menjadi relatif lebih menarik dibandingkan instrumen investasi berbasis suku bunga.

Selain faktor kebijakan moneter, penguatan emas juga didorong oleh situasi geopolitik global. Sebagai aset safe haven, emas memperoleh keuntungan dari meningkatnya ketegangan di Iran, belum tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina, serta konflik yang masih berlangsung di Gaza.

Analisis Teknikal dan Potensi Kenaikan Harga

Dari sisi analisis teknikal, peluang kenaikan harga emas dinilai masih terbuka. Analis Senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyampaikan bahwa secara teknis target kenaikan berikutnya bagi kontrak berjangka emas Februari adalah penutupan harga di atas level resistensi kuat pada rekor tertinggi kontrak, yakni di kisaran USD 4.584.

Tak hanya emas, pasar fisik logam mulia juga menunjukkan perkembangan menarik. Untuk pertama kalinya dalam hampir dua bulan terakhir, emas fisik diperdagangkan dengan harga premium di India dan China, yang mencerminkan kembali menguatnya permintaan di dua pasar utama tersebut.

Pergerakan Perak dan Logam Mulia Lain Ikut Menguat

Sementara itu, harga perak di pasar spot naik 0,7% ke posisi USD 71,77 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD 83,62. Platinum bahkan melonjak 3,5% menjadi USD 2.125,80 per ons, setelah sebelumnya mencetak level tertinggi di USD 2.478,50 per ons. Sepanjang 2025, kinerja perak dan platinum tercatat melampaui emas.

Harga perak melonjak lebih dari 147%, didorong statusnya sebagai mineral strategis di AS, keterbatasan pasokan, serta rendahnya persediaan di tengah kuatnya permintaan industri dan investasi. Platinum juga mencatat kenaikan tajam sekitar 127% dalam setahun terakhir. Palladium turut mengalami penguatan hampir 2% ke level USD 1.636,43 per ons. Sepanjang 2025, logam ini membukukan kenaikan sekitar 76%, yang menjadi lonjakan tahunan tertinggi dalam 15 tahun terakhir.

Meski reli signifikan terjadi menjelang akhir tahun, analis memperkirakan seluruh logam mulia berpotensi mengalami koreksi mingguan akibat aksi ambil untung investor.

Dinamika Pasar Logam Mulia di Dalam Negeri

Di dalam negeri, dinamika pasar logam mulia tercermin pada pergerakan harga perak Antam. Memasuki awal 2026, harga perak murni produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menunjukkan penguatan cukup tajam. Pada Jumat, 2 Januari 2026, harga perak Antam tercatat naik menjadi Rp44.565 per gram, atau meningkat Rp700 dibandingkan hari sebelumnya. Pergerakan ini menarik perhatian pelaku pasar dan investor ritel.

Sebelumnya, pada Kamis, 1 Januari 2026, harga perak Antam masih berada di level Rp43.865 per gram setelah sempat tertekan. Fluktuasi tersebut kembali menegaskan karakter pasar logam mulia yang sensitif terhadap berbagai faktor ekonomi global dan domestik, sekaligus memperkuat posisinya sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *