22 April 2026
AA1PBwH0.jpg

Awal Kehidupan dan Perjalanan Karier Soeharto

Sebelum menjadi seorang jenderal dan presiden Indonesia, Soeharto pernah memiliki latar belakang yang cukup sederhana. Banyak orang mungkin tidak mengetahui bahwa ia pernah bekerja sebagai pegawai bank desa kecil. Pengalaman ini menjadi awal dari perubahan besar dalam kariernya ketika ia bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air).

Latar Belakang Keluarga dan Sekolah

Soeharto lahir di sebuah keluarga yang tidak selalu harmonis. Meskipun ada berbagai masalah, terutama ekonomi, ia tetap diperhatikan oleh banyak orang. Sifatnya yang pendiam dan tertutup membuatnya sedikit berbeda dari teman-temannya. Meski begitu, Soeharto dikenal rajin dan ramah.

Selama masa sekolah, ia sering menghabiskan waktu untuk bertani. Ia sangat mengagumi pamannya, Prawirohardjo, dan paling mahir dalam menanam bawang bombay serta bawang putih. Setelah lulus SD, Soeharto melanjutkan pendidikannya ke Schakel School di Wonogiri. Karena jarak yang jauh dari rumah, ia harus tinggal di rumah kakak Sulardi, sahabatnya.

Masa Muda dan Pekerjaan Pertama

Setelah beberapa waktu tinggal di rumah kakak Sulardi, kehidupan Soeharto kembali berubah. Kakak Sulardi cerai, sehingga Soeharto harus mencari tempat tinggal baru. Ia dititipkan pada Hardjowijono, seorang pensiunan tanpa anak, yang tinggal di Wonogiri. Pada tahun 1939, Soeharto menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya.

Menjelang ujian kelulusan, situasi politik di Indonesia semakin memanas. Namun, Soeharto lebih fokus pada ujiannya. Setelah lulus, ia kembali ke Wuryantoro karena ayahnya tidak mampu membiayainya melanjutkan studi. Dengan bantuan pamannya, Soeharto akhirnya bekerja sebagai juru tulis di sebuah bank desa.

Kehidupan di Bank Desa dan Perubahan Hidup

Seragam kerjanya terdiri dari blangkon, beskap, dan sarung. Sayangnya, karena seragam yang lusuh, ia dipinjamkan sarung kesayangan oleh buliknya. Tapi, sarung itu terjebak di jari-jari sepeda yang ia naiki, sehingga karier Soeharto sebagai juru tulis berakhir.

Karena menganggur, Soeharto mencoba peruntungan ke Solo. Ia mendengar informasi lowongan kerja di Angkatan Laut Belanda sebagai juru masak. Namun, saat tiba di Solo, lowongan tersebut tidak ada. Dengan kecewa, ia kembali ke Wuryantoro dan mencari pekerjaan serabutan, seperti membantu membangun langgar atau membersihkan saluran air.

Bergabung dengan KNIL dan Perjalanan Militer

Tidak lama kemudian, Soeharto mendengar informasi tentang lowongan kerja di KNIL (Angkatan Perang Belanda). Ia memutuskan untuk mendaftar sebagai prajurit pada 1 Juni 1940. Pelatihan militer yang sangat keras membuatnya semakin kuat. Soeharto berhasil lulus sebagai kadet terbaik di angkatannya.

Setelah pelatihan, ia dikirim ke Batalyon XIII di Rampal, Malang. Pada 2 Desember 1940, dia diberi gelar kopral. Setelah menjalani latihan lanjutan di Gombong, ia dinaikkan pangkat menjadi sersan.

Perubahan Akibat Pendudukan Jepang

Pada saat Jepang menyerang Indonesia, karier Soeharto sebagai prajurit terhenti. Ia memutuskan pergi ke Yogyakarta untuk mencari pekerjaan baru. Di sana, ia mulai belajar mengetik. Tidak lama setelah itu, ia sakit dan harus pulang.

Saat pemulihan kesehatannya, ia membaca pengumuman bahwa satuan polisi Jepang, Keibuho, membuka lowongan. Ia langsung mendaftar dan diterima. Performanya yang baik membuatnya cepat berkembang. Kemudian, PETA (Pembela Tanah Air) menawarkan Soeharto untuk bergabung.

Kehidupan Dualisme dan Perjalanan Politik

Soeharto memilih untuk tetap menjadi anggota Keibuho sambil ikut PETA secara diam-diam. Dari PETA inilah kariernya mulai bergulir. Dengan rasa patriotisme yang besar, ia aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dari sini, perjalanan Soeharto sebagai tentara dan politisi mulai berjalan. Puncaknya adalah ketika ia menjadi Presiden ke-2 Republik Indonesia dan berkuasa selama 32 tahun. Perjalanan hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *