22 April 2026
AA1RLn8J.jpg

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) telah mengumumkan rencana pembagian dividen interim sebesar Rp 1,93 triliun atau setara dengan Rp 100 per saham. Informasi ini disampaikan oleh manajemen bank melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia. Pembagian dividen interim akan dilakukan sesuai dengan ketentuan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00077/01-2021 terkait perubahan pelaksanaan pembagian dividen saham, saham bonus, dan dividen interim.

Manajemen Bank Mandiri menegaskan bahwa pembagian dividen interim untuk tahun buku 2025 tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan. Hal ini menjadi bukti bahwa pengelolaan keuangan bank tetap stabil meskipun ada penurunan laba bersih.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Mandiri dikenal sebagai salah satu emiten perbankan yang konsisten dalam membagikan dividen besar kepada pemegang saham. Pada tahun buku 2024, bank ini membagikan dividen sebesar Rp 466,18 per saham, sedangkan pada tahun buku 2023, jumlahnya mencapai Rp 353,96 per saham. Dividen tersebut menjadi bentuk apresiasi bagi investor atas kinerja dan pertumbuhan yang konsisten dari Bank Mandiri.

Meski terjadi penurunan laba bersih sebesar 10,23% menjadi Rp 37,7 triliun pada kuartal III 2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Rp 42 triliun), Bank Mandiri tetap berkomitmen untuk menjaga pertumbuhan yang berkualitas. Hal ini didukung oleh tata kelola risiko yang disiplin serta sinergi lintas segmen dan sektor. Tujuannya adalah untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Hingga kuartal III 2025, penyaluran kredit konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp 1.764,32 triliun, tumbuh sebesar 11% secara tahunan. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata kredit perbankan nasional yang tercatat sebesar 7,7%. Selain itu, total aset konsolidasi Bank Mandiri juga meningkat sebesar 10,3% secara tahunan menjadi Rp 2.563 triliun.

Pertumbuhan kredit tersebut diiringi dengan kualitas aset yang tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross bank only tercatat sebesar 1,03%, dengan coverage ratio yang kuat di level 271%. Angka ini menunjukkan bahwa Bank Mandiri mampu menjaga kualitas kredit meskipun menghadapi tantangan pasar.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyampaikan bahwa sektor padat karya, industri berorientasi ekspor, serta industri makanan dan minuman masih menjadi motor utama pertumbuhan kredit. Kredit di sektor-sektor ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap penciptaan lapangan kerja dan daya beli masyarakat.

Beberapa faktor penting yang mendukung pertumbuhan kredit dan kualitas aset antara lain:

  • Strategi bisnis yang terarah dan berkelanjutan.
  • Kepatuhan terhadap tata kelola risiko yang baik.
  • Sinergi antar segmen bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi.
  • Fokus pada sektor-sektor strategis yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.

Dengan kinerja yang stabil dan komitmen terhadap pertumbuhan berkualitas, Bank Mandiri terus memperkuat posisinya sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia. Dalam waktu dekat, pihak manajemen akan mengumumkan jadwal resmi pembagian dividen interim sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *