Tingkat Aktivitas Gunung Semeru Masih Tinggi
Badan Geologi masih mempertahankan tingkat aktivitas Gunung Semeru di level IV (Awas) hingga Kamis tengah malam, 20 November 2025. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi, aktivitas gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini dianggap masih tinggi pasca meletus hebat pada Rabu siang.
Data kegempaan dari 19 hingga 20 November 2025 hingga pukul 12:00 WIB mencatat sejumlah gempa dengan berbagai jenis. Terdapat 179 kali gempa letusan, 1 kali gempa awan panas, 67 kali gempa guguran, 7 kali gempa embusan, 4 kali tremor harmonik, 3 kali gempa vulkanik dalam, dan 6 kali gempa tektonik jauh.
“Jumlah gempa yang terekam menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di Gunung Semeru masih tinggi,” ujar Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid dalam keterangan tertulisnya, Kamis malam, 20 November 2025.
Gempa-gempa yang terekam, kata Wafid, mengindikasikan masih adanya suplai dari bawah permukaan Gunung Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan embusan. Aktivitas Gunung Semeru memperlihatkan bahwa erupsi dan guguran lava masih terjadi, namun secara visual jarang teramati karena terkendala dengan kondisi cuaca.
Nilai variasi kecepatan relatif (dv/v) yang negatif atau menunjukkan pola penurunan sejak pertengahan Oktober 2025 mengindikasikan adanya peningkatan tekanan dekat permukaan tubuh gunung api yang berlokasi di Lumajang, Jawa Timur, itu. Pemantauan deformasi pada periode ini menunjukkan pola relatif stabil, diinterpretasikan bahwa tidak ada peningkatan tekanan dari bagian dalam tubuh gunungapi.
Hasil pengamatan visual, Kamis kemarin, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan sedang teramati putih dengan intensitas sedang dan tinggi 300-1000 meter di atas puncak.

Kerusakan rumah yang terdampak erupsi Gunung Semeru di Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur, 20 November 2025. Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status tanggap darurat bencana pada 19–25 November untuk mempercepat penanganan kawasan terdampak erupsi Gunung Semeru.
Sementara itu letusan teramati sebanyak 6 kali dengan tinggi asap 300-500 meter dan asap putih kelabu yang condong ke arah tenggara. Secara visual, letusan dan guguran lava yang terjadi jarang teramati karena terkendala dengan cuaca yang berkabut dan terkadang terdengar suara gemuruh pada saat terjadi letusan.
Gunung Semeru erupsi besar pada Rabu, 19 November 2025, pada pukul 14.13 WIB. Erupsi berupa awan panas guguran dengan jarak luncur hingga 13,8 kilometer ke arah Besuk Kobokan. Awan Panas terekam di seismograf Gunung Semeru dengan amplitudo maksimum 47 mm dan lama gempa 14.283 detik (kurang lebih 4 jam).
Hasilnya, terhitung dari 19 November 2025 pukul 17.00 WIB, tingkat aktivitas Gunung Semeru dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas). Pada level ini, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi bahwa masyarakat, pengunjung atau wisatawan tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 8 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).