Cuaca Dingin dan Antusiasme Pengunjung di Taman Safari Indonesia
Cuaca dingin menghiasi Taman Safari Indonesia (TSI) di Cisarua, Bogor, pada Senin 10 November 2025. Meskipun gerimis mulai turun, antusiasme pengunjung, baik lokal maupun internasional, tidak pernah surut. Mereka terus memasuki kawasan konservasi dan edukasi satwa yang ternama di Indonesia ini. Di sini, mereka dapat melihat berbagai satwa dan menikmati wahana yang tersedia.
Dari pintu masuk, para pedagang juga semangat menjajakan dagangan seperti wortel, buah-buahan, dan tongkat swafoto kepada pengunjung. Dengan menjual barang-barang tersebut, mereka mampu meraih pemasukan untuk kebutuhan keluarga.
Di dalam area TSI, para pekerja tampak sibuk, termasuk di lokasi tempat pembuangan akhir milik TSI yang dekat dengan pintu keluar. Mereka teliti dalam memilah sampah organik dan anorganik sambil menggunakan masker, sarung tangan, sarung sepatu, dan penutup rambut.
“Di sini, sampah organik didaur ulang menjadi pupuk organik atau makanan maggot. Mulai dari hulu ke hilir, TSI ingin memberikan manfaat berkelanjutan,” ujar Direktur Utama Greenprosa, Arky Gilang Wahab. Greenprosa adalah perusahaan pengolah sampah di TSI Cisarua, Puncak Bogor, yang juga anggota Taman Safari Indonesia Group.
Di area pengolahan sampah itulah TSI membangun pengolahan sampah organik bersama PT Greenprosa. Secara alamiah, sampah yang sudah dipilah itu dimakan oleh maggot alias larva lalat berwarna putih seperti ulat. Kemudian, maggot ini akan diolah kembali menjadi berbagai produk seperti minyak larva untuk kosmetik, termasuk untuk pakan ternak dan pupuk penyubur tanaman.
Direktur Utama Taman Safari Indonesia Group Aswin Sumampau menjelaskan, seluruh proses pengolahan sampah di Taman Safari Indonesia Cisarua Bogor itu disebut program Integrated Waste Management (IWM). Program IWM dapat memberikan nilai tambah bagi TSI, khususnya dalam aspek keberlanjutan. Dan bukan hanya sampah organik, kotoran satwa pun TSI olah kembali menjadi pupuk tanaman dan kertas.
Menurut Aswin, pengolahan sampah menjadi urgensi penting dalam sektor wisata. Secara angka, TSI menghasilkan sebanyak 20-25 ton sampah per hari –termasuk dari pengunjung– dan 60-75% merupakan sampah organik. Sampah ini tidak mungkin dibiarkan percuma. Melalui IWM, Aswin berkomitmen TSI menjadi lokasi wisata yang bersih dan berkelanjutan.
Rumah Sakit Satwa Baru
TSI tidak luput memberikan penanganan kesehatan kepada satwa. Saat berkunjung ke TSI Cisarua Puncak Bogor, sedang dibangun animal hospital baru yang lebih modern dan komprehensif, dan itu dijadwalkan bisa beroperasi awal tahun depan. Kehadiran rumah sakit satwa baru ini diharapkan mampu memberi pelayanan kesehatan kepada satwa di lingkungan TSI dan bermanfaat sebagai laboratorium penelitian berbagai jenis satwa.
Vice President of Life Science Taman Safari Indonesia Group drh. Bongot Huaso Mulia menjelaskan, pembangunan rumah sakit satwa baru milik TSI akan menjadi layanan kesehatan satwa terlengkap di Asia Tenggara. Animal Hospital TSI ini luasnya lebih dari lima hektar dan dapat menampung lebih banyak satwa.
Dengan nilai investasi mencapai Rp50 miliar, terdapat beberapa ruangan penting dalam rumah sakit baru TSI. Termasuk ruangan untuk satwa besar (seperti badak atau gajah), laboratorium biobank, ruang operasi steril, ruang diagnostik, laboratorium biotechnology, ruang satwa darat dan air, ruang inkubator, dan lainnya.
Dengan penambahan bangunan rumah sakit yang baru, TSI juga menyiapkan program edukasi tambahan yaitu pengunjung dapat melihat proses operasi satwa secara langsung. Melalui program ini, Drh. Bongot berharap pengunjung mendapat edukasi yang benar dan meningkat empatinya kepada satwa.
Konservasi Satwa Langka
Saat ini TSI sedang mengonservasi tiga satwa langka, yakni Owa Jawa, Harimau Sumatera, dan Kucing Emas. Menurut Drh. Bongot, konservasi tiga satwa ini sejalan dengan tujuan TSI terkait penelitian dan konservasi satwa langka. Salah satu yang dilakukan adalah pengembangbiakan (breeding) yang bertujuan sebagai stock population. TSI menggandeng lembaga konservasi dari Tiongkok dan Jerman untuk menjaga kualitas penelitian.
“Jadi sifatnya, kita masih research dan restocking untuk mendapatkan banyak pengetahuan. Harimau Sumatera sudah dilepas liarkan. Kemudian Owa Jawa ini sedang dalam proses persiapan. Jadi kalau Owa Jawa dilepas ini harus sekeluarga. Tidak bisa sendiri-sendiri. Biasanya bapak, ibu, dan anak,” ungkap Drh. Bongot.
Namun, tidak semuanya dilepas liarkan begitu saja, Drh. Bongot menambahkan, hal ini berkaitan dengan keselamatan lingkungan atau ekologi. Ia mencontohkan wilayah wilayah Bali yang tidak memungkinkan untuk pelepasliaran Harimau Bali karena ekologi dan faktor rantai makanan di alam liar yang tidak mendukung.
Program Nataru 2026
Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, TSI pun sedang menyiapkan strategi bisnis dan operasional untuk menjaga performa sekaligus menghadirkan pengalaman berkesan bagi pengunjung. General Manager Taman Safari Indonesia Cisarua Bogor Sere Nababan menyampaikan, TSI optimistis menyambut lonjakan wisatawan, sekaligus tetap menaruh perhatian besar pada kesejahteraan satwa dan keberlanjutan bisnis.
Menurut Sere, libur panjang akhir tahun merupakan momentum penting bagi bisnis wisata. Berdasarkan data internal TSI, jumlah pengunjung tahunan TSI mencapai 15 ribu orang per hari saat musim Lebaran. Angka itu menjadi patokan manajemen untuk mencapai target pengunjung di akhir tahun nanti.
“Kami berharap volume pengunjung di Nataru nanti bisa mencapai 10 ribu orang per hari, bahkan lebih. Itupun tergantung pada kondisi eksternal seperti arus lalu lintas di kawasan Puncak,” ujarnya.
Sere mengakui adanya tantangan klasik di kawasan Puncak yaitu kemacetan yang berpotensi menurunkan minat wisatawan. “Masalah lalu lintas ini sudah jadi isu tahunan. Kami sudah berkoordinasi dengan asosiasi, PHRI, dan pemerintah daerah agar pengelolaan arus kendaraan bisa lebih baik. Karena begitu pengunjung terjebak macet empat atau lima jam, mereka bisa kehilangan semangat berwisata,” katanya.
Untuk memastikan kepuasan pengunjung, manajemen TSI telah menyiapkan serangkaian program khusus Nataru. Mulai dari Safari Night, entertainment, pesta kembang api, konser musik, hingga paket menginap dua malam di Safari Resort yang sudah termasuk gala dinner malam tahun baru. “Kami ingin pengalaman pengunjung bukan sekadar berwisata, tapi juga menikmati suasana perayaan yang hangat bersama keluarga,” ujar Sere.
Dari sisi bisnis, manajemen menyadari kondisi ekonomi yang menekan daya beli masyarakat turut berdampak pada kunjungan wisata. Jumlah pengunjung harian yang biasanya bisa mencapai 4.000–5.000 orang, kini turun menjadi sekitar 2.500 orang per hari. “Tren penghematan terasa di semua sektor. Pengunjung yang biasanya datang lima kali setahun, sekarang mungkin hanya dua kali. Tapi kami tetap berusaha menjaga kualitas layanan dan kesejahteraan satwa,” katanya.