Penyebab Keracunan Massal Siswa MBG di Bandung Barat Terungkap
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa bakteri E. coli dan kandungan nitrit positif ditemukan dalam sampel air dan makanan yang dikonsumsi siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Temuan ini menjadi dugaan utama penyebab keracunan massal yang terjadi beberapa waktu lalu.
Koordinator Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB, Sudarsono, menjelaskan bahwa setelah kejadian, pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap sisa makanan dan air yang dikonsumsi para siswa. Hasilnya menunjukkan adanya kandungan nitrit dalam sampel tersebut.
Menurut Sudarsono, nitrit bisa terbentuk secara alami dari nitrat yang terdapat pada sayuran. Namun, perubahan dari nitrat menjadi nitrit dapat terjadi jika ada kontaminasi bakteri, termasuk dari air yang tidak steril. “Bakteri dari air atau peralatan masak bisa memicu perubahan nitrat menjadi nitrit. Itulah yang berbahaya karena bisa mengikat hemoglobin dalam darah dan menghambat penyerapan oksigen,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan Labkesmas, terdapat sejumlah satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Bandung Barat yang menggunakan air yang mengandung bakteri Coliform dan E. coli. Padahal, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2023, kadar Coliform maupun E. coli di air minum harus nol. Oleh karena itu, kini diperintahkan untuk hanya menggunakan air minum dalam proses memasak, bukan air bersih biasa.
Untuk mencuci peralatan, masih boleh menggunakan air bersih, tetapi harus melalui perebusan atau disterilisasi terlebih dahulu. Instruksi Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan bahwa seluruh dapur MBG harus menggunakan air bersertifikat, yakni air minum yang telah memenuhi standar SNI atau sertifikasi BPOM.
Langkah Pencegahan yang Dilakukan
Sudarsono juga menjelaskan bahwa setiap SPPG di Bandung Barat kini wajib dilengkapi dengan filter dan sinar ultraviolet (UV) untuk membunuh bakteri dalam air. “Sekarang semua SPPG harus dilengkapi filter dan UV. Itu membunuh bakteri di air supaya tidak ada lagi kontaminasi,” ujarnya.
Ia juga menanggapi pernyataan BGN yang menyebut KBB sebagai daerah pemicu kasus keracunan MBG secara nasional. Ia tidak menampik adanya kelalaian dalam pengelolaan air. Namun, ia menegaskan bahwa Pemkab Bandung Barat telah melakukan langkah korektif. “Tapi sekarang semua sudah diperbaiki. Air diolah pakai UV dan hasil uji terbaru sudah nol bakteri,” ujarnya.
Kejadian Keracunan Lagi di SMP Bina Karya
Sementara itu, sebanyak 18 siswa SMP Bina Karya di Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah KBB dilarikan ke Puskesmas Ngamprah pada Selasa 11 November 2025 akibat dugaan keracunan MBG. Informasi awal menyebutkan bahwa para siswa mengalami gejala mual dan pusing beberapa saat setelah makan siang MBG.
Sejumlah siswa langsung dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis. Pantauan di Puskesmas Ngamprah menunjukkan bahwa seluruh siswa yang sempat dirawat telah dipulangkan dan kondisi mereka dinyatakan membaik.
Di dapur SPPG Sukatani, sejumlah aparat kepolisian dari Inafis Polres Cimahi melakukan pemeriksaan dan mengambil sampel makanan sisa untuk diuji di laboratorium. Selain kepolisian, petugas Dinkes KBB juga berada di lokasi SPPG Sukatani untuk melakukan pemantauan dan evaluasi proses produksi serta distribusi makanan.
Penjelasan dari Kepala SPPG Sukatani
Kepala SPPG Sukatani, Muhammad Tiogranada, membantah bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh menu MBG yang mereka olah. Ia menegaskan bahwa seluruh proses memasak dan pendistribusian dilakukan sesuai SOP. “Proses kami sudah sesuai SOP, dari pengolahan bahan hingga distribusi. Kami tidak memasak terburu-buru, bahan juga kami jaga dengan ketat,” ujarnya.
Berdasarkan pengecekan langsung ke sekolah, beberapa siswa diketahui berolahraga dan jajan di luar sekolah sebelum menyantap MBG. Hal itu perlu diperiksa juga.
Dapur SPPG Sukatani setiap hari memproduksi sekitar 1.200 porsi MBG untuk didistribusikan ke 15 sekolah jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP. Menurutnya, distribusi MBG ke sekolah dilakukan dengan memperhatikan jarak agar makanan tetap higienis dan layak konsumsi.
Sebagai bentuk tanggung jawab, pihaknya langsung membantu proses evakuasi siswa ke Puskesmas. “Kami bergerak cepat. Mobil distribusi dan kendaraan pribadi dapur kami gunakan untuk membawa siswa ke puskesmas,” ujarnya.
Terkait kualitas air di Bandung Barat yang terkontaminasi bakteri, dia memastikan bahwa dapurnya tidak menggunakan air mentah, melainkan air galon bersih yang diganti setiap hari. “Kami juga mengajukan pemasangan filter UV,” tuturnya.