Video Siswa SD di Nias Utara Menangis dan Muntah-Muntah, Ini Penjelasan Pihak Terkait
Sebuah video yang beredar menampilkan puluhan siswa SD di Nias Utara terlihat menangis dan muntah-muntah setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Dalam video tersebut, terlihat sejumlah anak menangis secara serempak di dalam ruangan kelas. Tak lama kemudian, para siswa tersebut dibawa menggunakan ambulance.
Dalam video itu juga terdengar suara perempuan dengan menggunakan bahasa daerah Nias dicampur dengan bahasa Indonesia. Perempuan tersebut meminta untuk membawa siswa ke rumah sakit dan menyebutkan bahwa susu yang diminum siswa berasal dari MBG.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Gizi Regional Sumatera Utara Agung Kurniawan membantah bahwa puluhan siswa tersebut keracunan MBG. Ia menjelaskan bahwa siswa tersebut muntah karena sebelumnya makan durian di rumahnya. Kemudian, di sekolah mereka minum susu dan makan semangka dari MBG pada hari itu.
“Jadi gini kalau namanya keracunan harus keluar dari rekam medis. Dan yang berhak mengumumkan adalah Dinkes. Saat ini kejadian (dugaan keracunan MBG di Nias Utara) masih indikasi,” jelasnya kepada Tribun Medan, Minggu (2/11/2025).
Menurutnya, peristiwa itu terjadi di SD Onozitoli Sawo, Kecamatan Sawo Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara, pada Jumat (31/10/2025). Jumlah siswa yang terindikasi keracunan ada 18 siswa, dengan 17 di Puskesmas dan 1 orang lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Gunung Sitoli.
Agung juga menjelaskan kronologi dan alasan satu siswa tersebut dirujuk ke RS Gunung Sitoli. “Satu siswa ini dirujuk ke rumah sakit karena dia yang direkomendasikan Nakes karena Puskesmas tidak sanggup jadi diarahkan ke rumah sakit. Anak ini sampai dirujuk ke sana, karena sebelum makan MBG dari rumah dia sudah makan durian,” jelasnya.
Ia merincikan menu MBG di sekolah itu pada hari kejadian yakni Susu, semangka, telur balado, dan nasi. “Pernyataan dari Korwil yang diminum siswa itu adalah susu,” katanya.
Saat ini, 18 siswa tersebut sudah dipulangkan ke rumah masing-masing. “Jadi di hari kejadian itu juga, pada pukul 18.00 seluruh siswa dipulangkan. Dari hasil analisa dokter, mereka hanya panik masal,” jelasnya.
Dijelaskannya, panik masal disebabkan karena pada saat MBG, ada siswa yang muntah. Sehingga, siswa lainnya mendadak ketakutan. “Jadi ini contoh casenya ya, misal kita lagi makan, trus ada salah satunya yang muntah. Kira-kira yang disampingnya itu ada yang mau muntah dan ada yang ikut muntah. Begitulah kejadiannya,” tuturnya.
Meski begitu, kata Agung, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) nya ditutup sementara. Dan sampel muntahan siswa serta susu sudah diserahkan ke Dinkes untuk dilakukan uji laboratorium.
“SPPG ditutup untuk dicek sementara. Makanya itu masih indikasi. Dan sampel muntahan pertama sudah diambil oleh Dinkes Setempat,” jelasnya.