21 April 2026
67146817099d1.png

Presiden Lebanon Perintahkan Militer untuk Tangkal Serangan Israel

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, pada hari Kamis (30/10) mengeluarkan perintah tegas kepada militer negara tersebut untuk merespons setiap serangan atau upaya pasukan Israel memasuki wilayah selatan yang telah dibebaskan. Langkah ini menjadi perintah pertama sejak gencatan senjata diberlakukan pada akhir 2024.

Perintah tersebut diambil setelah terjadi serangan oleh pasukan Israel terhadap gedung balai kota Blida di Lebanon Selatan, Rabu malam. Serangan itu menewaskan seorang pejabat pemerintah setempat. Menurut laporan dari Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), Presiden Aoun mengecam keras tindakan Israel dan menyebutnya sebagai bagian dari “pola agresi yang terus berlanjut terhadap kedaulatan Lebanon.”

Dalam pertemuan di Istana Baabda bersama Panglima Angkatan Darat Jenderal Rudolph Haykal, Aoun menegaskan bahwa serangan Israel terjadi hanya sehari setelah pertemuan Komite Pengawas Gencatan Senjata. Ia menilai komite tersebut tidak cukup hanya mencatat pelanggaran, tetapi harus bertindak nyata dengan menekan Israel agar mematuhi perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada November 2024.

“Setiap pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon tidak boleh dibiarkan tanpa respons. Tugas militer adalah mempertahankan wilayah yang telah dibebaskan,” tegas Aoun sebagaimana dikutip NNA.

Penjelasan Militer Israel dan Respons Hizbullah

Militer Israel mengklaim bahwa gedung balai kota Blida digunakan oleh kelompok Hizbullah untuk kegiatan militer yang disamarkan sebagai aktivitas sipil. Namun, Hizbullah mengecam serangan tersebut dan memuji langkah Presiden Aoun yang dinilai menunjukkan ketegasan negara. Kelompok tersebut juga berjanji akan mendukung penuh militer Lebanon dalam memperkuat kemampuan pertahanan nasional.

“Pemerintah harus mengambil langkah politik dan diplomatik yang lebih tegas untuk melindungi warga dan kepentingan nasional,” demikian pernyataan Hizbullah yang disiarkan melalui salanan medianya.

Kebijakan Senjata dan Ketegangan di Wilayah Selatan

Pada Agustus lalu, pemerintah Lebanon menyetujui rencana menempatkan seluruh senjata di bawah kendali negara. Namun, Hizbullah menolak kebijakan tersebut dan menegaskan akan tetap mempertahankan persenjataannya hingga Israel menarik diri sepenuhnya dari lima pos perbatasan yang masih didudukinya di Lebanon selatan.

Sejak Oktober 2023, serangan Israel ke Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai hampir 17.000 lainnya. Konflik yang awalnya berskala terbatas berubah menjadi ofensif penuh pada September 2024.

Gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel dicapai pada November 2024, dengan ketentuan bahwa pasukan Israel harus menarik diri sepenuhnya pada Januari 2025. Namun hingga kini, Israel baru melakukan penarikan sebagian dan masih mempertahankan kehadiran militernya di lima pos perbatasan, memicu ketegangan baru di kawasan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *