Perkembangan Industri Rokok Tahun 2025
Pada tahun 2025, sebagian besar emiten rokok mengalami penurunan penjualan. Hal ini sejalan dengan kondisi industri yang menunjukkan penurunan produksi rokok nasional menjadi 307,85 miliar batang, yaitu level terendah sejak 2019. Meskipun begitu, beberapa perusahaan tetap berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih berkat efisiensi operasional.
PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) mengalami koreksi penjualan, namun berhasil meningkatkan laba bersih melalui efisiensi. Di sisi lain, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) mengalami koreksi penjualan dan laba bersih, tetapi memiliki peluang bagus di segmen bebas asap yang tumbuh dua digit.
Di segmen konsumen menengah ke bawah, PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) mencatat pertumbuhan laba dan penjualan. Produk sigaret kretek mesin (SKM) milik WIIM tumbuh, berbeda dengan produk dari GGRM dan HMSP yang kompak mengalami koreksi. Sementara itu, PT Indonesian Tobacco Tbk. (ITIC) mengalami koreksi pada laba dan penjualan, menunjukkan bahwa menyasar segmen ekonomis tidak selalu menghasilkan pertumbuhan kinerja.
Analisis dari Ahli Pasar Modal
Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai 2026 bisa menjadi fase perbaikan kinerja emiten rokok, tetapi belum benar-benar menjadi sektor yang menarik bagi investor pasar modal. Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan cukai rokok dan harga jual eceran (HJE) pada 2026 memberi ruang napas bagi produsen. Namun, kondisi industri secara umum masih belum kuat, sehingga perbaikan dari sisi tekanan biaya belum cukup untuk menjadikan sektor ini sebagai pendorong utama pasar.
Menurut Ekky, HMSP dan WIIM menarik secara strategi, meski dengan alasan yang berbeda. GGRM berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang tinggi di 2025, tetapi perbaikannya lebih banyak datang dari efisiensi, bukan karena pemulihan permintaan yang kuat. Sementara HMSP dinilai punya nilai lebih karena relatif defensif dan mulai menunjukkan pertumbuhan pada segmen produk bebas asap. Di sisi lain, WIIM menarik karena mampu menangkap segmen rokok ekonomis di tengah tekanan daya beli.
Kinerja Finansial Emiten Rokok
Berikut adalah data kinerja finansial emiten rokok:
| Emiten | Penjualan bersih (2025) | Penjualan bersih (2024) | YoY | Beban pokok penjualan (2025) | Beban pokok penjualan (2024) | YoY | Laba bersih (2025) | Laba bersih (2024) | YoY |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| HMSP | 112.171.993 | 117.880.017 | -4,8% | 91.554.485 | 99.348.233 | -7,8% | 6.609.456 | 6.645.774 | -0,5% |
| GGRM | 89.369.758 | 98.655.483 | -9,4% | 80.385.284 | 89.275.859 | -10,0% | 1.556.533 | 980.805 | 58,7% |
| WIIM | 6.381.690 | 4.750.890 | 34,3% | 4.973.382 | 3.678.373 | 35,2% | 419.208 | 298.682 | 40,4% |
| ITIC | 313.448 | 324.484 | -3,4% | 246.049 | 255.175 | -3,6% | 20.335 | 21.241 | -4,3% |
Data dalam juta rupiah, data laporan keuangan 2025 diolah.
Performa Saham di Pasar Modal
Saham emiten rokok sepanjang 2026 cenderung positif. Saham GGRM naik 0,35% ke Rp14.150 atau menguat 1,07% (year to date/YtD). Saham HMSP ditutup koreksi 0,68% ke Rp735 atau naik 1,38% (YtD). Saham WIIM naik 1,12% ke Rp1.805 atau naik 9,39% (YtD). Di sisi lain, saham ITIC terkoreksi 28,89% (YtD) di perdagangan Kamis (2/4/2026) tak berubah di level Rp256.
Ekky menilai inovasi yang dilakukan emiten rokok tetap penting, tapi pasar akan lebih menghargai emiten yang bisa bertahan dan menjaga profitabilitas. Menurutnya, saham emiten rokok pada 2026 memang bisa terlihat lebih stabil dibanding 2025, tetapi tetap bukan sektor yang akan menjadi pendorong utama pasar.
Pandangan dari Ahli Lain
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan minat investor terhadap saham emiten rokok akan selektif. Pasar akan cenderung mencari kombinasi yield dividen yang baik, neraca yang solid, dan bukti eksekusi strategi efisiensi maupun penyesuaian portofolio produk.
Dengan mengacu pada kinerja emiten rokok di 2025, Rully menilai posisi paling strategis cenderung dimiliki oleh emiten yang sudah menunjukkan kemampuan efisiensi biaya yang kuat seperti GGRM yang mampu mengerek laba bersih meski penjualan turun. Selain itu, peluang bagus juga dimiliki emiten yang punya eksposur ke segmen yang sedang tumbuh seperti produk bebas asap milik HMSP dan segmen SKM ekonomis yang diproduksi WIIM.
Outlook Industri Rokok
Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita memandang 2026 tidak akan menjadi tahun yang gampang untuk emiten rokok raih pertumbuhan. Namun, downside risk jelas lebih terkendali. Keputusan pemerintah menahan kenaikan cukai dan HJE memang memberi breathing space bagi margin, namun tidak serta-merta mengembalikan pertumbuhan volume.
Tahun ini menurutnya industri rokok tetap dihadapkan oleh masalah utama seperti downtrading konsumen, tekanan daya beli dan pergeseran preferensi. Dengan demikian, 2026 lebih sebagai fase stabilisasi margin ketimbang fase ekspansi agresif.
Menilik kekuatan masing-masing emiten rokok mengarungi 2026, Ronny menilai positioning GGRM relatif kuat dalam efisiensi operasional. Kemampuan menjaga bahkan meningkatkan laba di tengah kontraksi volume menunjukkan cost discipline dan optimalisasi produksi berjalan efektif. Sementara itu, HMSP unggul dari sisi opsionalitas jangka menengah lewat portofolio smoke-free products. Segmen ini memang bukan kontributor utama saat ini, tetapi dinilai menjadi strategic hedge terhadap perubahan regulasi dan preferensi generasi muda.
Kemudian, WIIM menurutnya justru menjadi emiten yang paling adaptif terhadap downtrading. Ketika konsumen bergeser ke segmen harga lebih rendah, positioning di segmen ekonomis menjadi keunggulan kompetitif tersendiri. Terakhir, ITIC sedang berada dalam posisi paling tertekan karena eksposur ke kelas menengah yang justru paling tergerus daya belinya.
Tantangan dan Peluang di 2026
Ronny menggambarkan tantangan dan peluang industri rokok di 2026. Dari sisi tantangan, ada faktor daya beli yang belum pulih secara penuh. Inflasi Maret 2026 memang moderat, tetapi real income growth masih terbatas. Sementara rokok sangat sensitif terhadap elastisitas harga di segmen bawah. Berikutnya, struktur cukai tetap berat meski tahun ini tidak naik. Kondisi ini membuat ruang ekspansi margin berbasis pricing sangat terbatas.
Selanjutnya, ada perubahan demografi dan regulasi. Tekanan global terhadap konsumsi tembakau konvensional akan terus meningkat, baik melalui regulasi maupun perubahan gaya hidup. Terakhir, ada faktor stagnansi volume struktural. Ronny menjelaskan bahwa produksi nasional yang turun ke level terendah sejak 2019 menandakan bahwa ini bukan siklus biasa, melainkan indikasi secular decline.
Peluang Berupa Stabilisasi Harga dan Pemulihan Margin
Peluang berupa stabilisasi harga dan pemulihan margin. Tanpa kenaikan cukai, perusahaan bisa lebih presisi dalam mengelola average selling price (ASP) dan biaya. Sedangkan, fenomena downtrading bisa dimanfaatkan sebagai sumber volume driver baru, dan ini terbukti melihat keberhasilan relatif WIIM.
Peluang lainnya adalah produk alternatif yang bisa dikembangkan emiten rokok. Sebagai contoh, HMSP bisa memanfaatkan produk bebas asap sebagai long-term growth engine, meski monetisasinya masih bertahap. Terakhir, ada peluang berupa strategi efisiensi dan otomasi. Menurutnya, industri tembakau saat ini semakin bergerak ke arah lean operation. Perusahaan yang mampu menekan biaya akan tetap profitable meski volume penjualan stagnan.
Perkembangan Industri Tembakau dalam Beberapa Babak
Dalam short-term reality 2025–2026, pertumbuhan laba di industri ini lebih banyak berasal dari rasionalisasi biaya produksi, optimalisasi distribusi, dan penyesuaian portofolio produk. Ini terlihat jelas pada GGRM di mana margin expansion without volume growth membaik. Namun, ada batas atau ceiling effect, karena efisiensi tidak bisa diekstraksi tanpa batas. Setelah titik tertentu, penghematan biaya akan mengalami diminishing return.
Pada babak berikutnya, dalam long-term survival, keberlangsungan industri tembakau menurutnya akan ditentukan dari inovasi seperti perubahan preferensi konsumen, terutama ke produk rendah risiko. Dalam situasi ini, tidak bisa dijawab dengan efisiensi semata. Menurutnya, diferensiasi HMSP akan menjadi relevan.
Singkatnya, industri rokok Indonesia sedang berada dalam fase transisi dari volume-driven ke margin-driven, dan dalam jangka panjang akan bergerak ke innovation-driven. Emiten yang hanya mengandalkan efisiensi tanpa reposisi produk berisiko kehilangan relevansi dalam 5–10 tahun ke depan.