Kajian Harga dan Manfaat dalam Pengelolaan Spektrum Frekuensi
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) saat ini sedang melakukan kajian terkait pendekatan harga dan manfaat dalam pengelolaan spektrum frekuensi. Tujuannya adalah untuk membuat biaya spektrum lebih ringan bagi perusahaan telekomunikasi. Pendekatan ini juga diharapkan mampu memberikan perspektif yang lebih komprehensif dalam menentukan kebijakan pengelolaan spektrum.
Apa Itu Price and Benefit Analysis?
Price and benefit analysis dalam konteks seleksi atau lelang spektrum merujuk pada pendekatan penilaian yang tidak hanya mempertimbangkan harga penawaran, tetapi juga manfaat yang dihasilkan dari pemanfaatan spektrum tersebut. Manfaat tersebut dapat berupa perluasan layanan, peningkatan kualitas jaringan, inklusi digital, serta kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan pendekatan ini, pemanfaatan spektrum tidak hanya dilihat dari sisi penerimaan negara bukan pajak (PNBP), tetapi juga dari dampak sosial dan ekonomi jangka panjang. Hal ini dianggap lebih seimbang dan mendukung pertumbuhan industri telekomunikasi secara berkelanjutan.
Proses Penyusunan Kajian
Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi Denny Setiawan menyatakan bahwa pembahasan mengenai pendekatan price and benefit analysis masih dalam tahap penyerapan masukan. Meskipun demikian, seluruh keputusan tetap berada di tangan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi).
Denny menjelaskan bahwa kajian internal telah dilakukan, namun proses pengambilan keputusan tetap memerlukan konsultasi dengan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) di lingkungan kementerian. Regulasi juga membuka sejumlah opsi skema pengelolaan spektrum, sehingga tidak seluruhnya harus dibebankan melalui mekanisme seleksi atau lelang.
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 2023 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Komunikasi dan Informatika mencantumkan beberapa alternatif skema, seperti penerapan indeks nilai K kepada operator hingga kemungkinan skema BHP 0%.
Keuntungan Pendekatan Price and Benefit
Denny menyampaikan ketertarikannya agar pendekatan tersebut dapat dikonversi menjadi kajian price and benefit analysis yang lebih terukur. Namun, dia juga menyoroti keterbatasan waktu dalam penyusunan kajian tersebut, mengingat industri sudah membutuhkan spektrum baru.
“Tapi mudah-mudahan apa yang dilakukan hari ini kita akan kaji dan mungkin sampaikan ke pimpinan,” ujarnya.
Selain itu, Denny menjelaskan karakteristik pita frekuensi. Spektrum 2,6 GHz dengan skema TDD secara teknis lebih diarahkan untuk 5G, sedangkan 700 MHz dapat digunakan baik untuk 4G maupun 5G.
Pandangan dari BPKP
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bidang Pertahanan dan Keamanan BPKP Setia Pria Husada menilai spektrum sebagai sumber daya yang sangat terbatas dan strategis. Oleh karena itu, pemanfaatannya perlu dioptimalkan dari sisi dampak sosial dan ekonomi, bukan semata dilihat dari kontribusinya terhadap PNBP.
Menurut dia, dibandingkan dengan sumber penerimaan negara lain seperti sektor migas, kontribusi PNBP dari spektrum relatif kecil. Karena itu, pendekatan pengelolaannya perlu menitikberatkan pada efek pengganda yang dihasilkan bagi masyarakat dan perekonomian.
Setia Pria Husada menilai kajian price and benefit lebih tepat digunakan dibandingkan pendekatan berbasis biaya. “Kajian tentang price and benefit. Bukan cost ya, price. Kan harga kondisinya kan price. Bukan cost. Price and benefit. Benefitnya tidak PNBP, bukan. Tapi dampak sosial dan ekonomi jangka panjang,” katanya.