27 April 2026
20201114herbal-untuk-diabetes.jpg

Inovasi Herbal untuk Mengurangi Nyeri pada Penderita Diabetes

Seorang dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Iis Noventi, S.Kep., Ns., M.Kep., berhasil meraih sertifikat paten atas inovasi bernama Jatu Hydroterapi Herbal. Inovasi ini muncul dari kepedulian terhadap keluhan nyeri dan kebas yang sering dialami oleh penderita diabetes.

Jatu Hydroterapi Herbal merupakan komposisi herbal yang terdiri dari bahan alami seperti lombok merah, jinten hitam, kunyit, delingu, jahe, kayu manis, cuka apel, dan garam laut. Terapi dilakukan dengan cara merendam kaki menggunakan air es yang telah dicampur ramuan herbal tersebut.

Menurut Iis, ide pengembangan Jatu Hydroterapi Herbal muncul dari pengamatannya terhadap penderita diabetes yang sering mengalami nyeri neuropati. Hal ini mengganggu aktivitas harian mereka. “Banyak pasien diabetes merasa tidak nyaman karena nyeri dan kebas. Dari situ saya ingin membantu mencarikan solusi agar mereka bisa lebih nyaman menjalani aktivitas sehari-hari,” ujarnya.

Pengembangan inovasi ini dimulai dari dukungan matching fund internal Unusa. Berbasis evidence-based practice, Iis kemudian meramu formulasi herbal yang dinilai aman sebagai terapi komplementer bagi penderita diabetes. Ia menambahkan bahwa inovasi tersebut telah didaftarkan paten sejak 2023 dan baru resmi memperoleh sertifikat paten pada 2025.

Dalam prosesnya, Iis melakukan riset cukup panjang. Ia menelusuri bahan hingga ke Jawa Tengah, mengikuti pelatihan rempah bersama Agradaya Yogyakarta, serta berdiskusi dengan pakar dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, untuk memperkaya formulasi produknya. “Saya melakukan eksplorasi bahan dan pengetahuan ke berbagai daerah dan melibatkan banyak pihak agar racikan yang dihasilkan benar-benar tepat,” katanya.

Untuk menguji efektivitas inovasi tersebut, Iis bekerja sama dengan Puskesmas Sawahan dalam uji coba lapangan. Penelitian melibatkan 60 penderita diabetes yang dibagi dalam tiga kelompok perlakuan. Kelompok pertama hanya direndam menggunakan air dingin, kelompok kedua direndam dengan Jatu Hydroterapi Herbal dan air dingin, sedangkan kelompok ketiga mengombinasikan Jatu Hydroterapi Herbal dengan senam kaki.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang dikombinasikan dengan senam kaki mengalami penurunan nyeri paling signifikan. Disusul kelompok yang menggunakan Jatu Hydroterapi Herbal tanpa senam kaki, sementara penurunan nyeri paling kecil terjadi pada kelompok yang hanya direndam air dingin. “Responden menyampaikan bahwa nyeri dan rasa kebas berkurang setelah terapi. Namun hasilnya lebih optimal jika dikombinasikan dengan senam kaki dan dilakukan secara rutin,” jelas Iis.

Ke depan, Iis menargetkan pengembangan Jatu Hydroterapi Herbal ke tahap riset lanjutan. Saat ini produk masih berbentuk simplisia atau bahan kering. Ia berencana menggandeng mitra penelitian agar dapat diekstraksi, diformulasikan, serta dikomersialkan dengan standar yang lebih jelas. “Harapannya produk ini bisa menjadi obat herbal yang difarmasikan dan terdaftar di BPOM agar standarisasinya terjamin,” pungkasnya.

Proses Pengembangan dan Uji Coba

Inovasi Jatu Hydroterapi Herbal mengalami berbagai tahapan pengembangan sebelum akhirnya mendapatkan sertifikat paten. Proses ini melibatkan penelitian intensif dan kerja sama dengan berbagai pihak. Berikut adalah beberapa langkah penting dalam pengembangan produk:

  • Eksplorasi Bahan: Iis melakukan penelusuran bahan hingga ke Jawa Tengah untuk menemukan komponen-komponen herbal yang tepat.
  • Pelatihan Rempah: Iis mengikuti pelatihan rempah bersama Agradaya Yogyakarta untuk meningkatkan pengetahuan tentang bahan-bahan alami.
  • Diskusi dengan Pakar: Iis berdiskusi dengan para ahli dari Universitas Jenderal Soedirman untuk memperkaya formulasi produknya.
  • Uji Coba Lapangan: Produk diuji coba pada 60 penderita diabetes dengan pembagian tiga kelompok perlakuan.
  • Analisis Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Jatu Hydroterapi Herbal dengan senam kaki memberikan efek paling optimal dalam mengurangi nyeri.

Tantangan dan Harapan

Meskipun inovasi ini telah mendapatkan sertifikat paten, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah proses ekstraksi dan formulasi produk agar dapat dikomersialkan. Iis berharap agar produk ini dapat difarmasikan dan terdaftar di BPOM sehingga standarisasi dapat terjamin.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *