22 April 2026
AA1TtRs8.jpg

Kinerja Saham Grup Bakrie Mengilap di Perdagangan Perdana 2026

Pada perdagangan perdana tahun 2026, sejumlah saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie seperti PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) mencatatkan kinerja yang mengilap dan menjadi salah satu penopang utama indeks harga saham gabungan (IHSG).

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berhasil menguat sebesar 1,17% pada perdagangan perdana 2026, Jumat (2/1/2026), dengan level mencapai 8.748,13. Penutupan IHSG ini ditandai oleh nilai transaksi yang mencapai Rp22,13 triliun, volume transaksi sebesar 48,82 miliar lembar, dan frekuensi transaksi sebanyak 3,07 juta kali. Sementara itu, market cap pasar modal Indonesia mencapai Rp16.013 triliun.

Dalam perdagangan perdananya tahun ini, sebanyak 508 saham menguat, 206 saham melemah, dan 244 saham tidak berubah atau stagnan. Beberapa saham mencatatkan kenaikan signifikan dan menjadi top leaders dalam daftar IHSG.

Contohnya, saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) menguat sebesar 10% pada perdagangan perdana 2026 dan menjadi salah satu saham paling unggul dalam indeks tersebut. Selain itu, setidaknya empat saham terafiliasi Grup Bakrie masuk ke dalam jajaran 10 teratas daftar top leaders IHSG.

Saham BUMI mencatatkan kenaikan sebesar 14,75%, sedangkan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) naik 7,27%. Saham lainnya yang terafiliasi dengan Grup Bakrie, seperti PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) melonjak 17,16% dan DEWA naik 11,94% pada perdagangan perdana 2026.

Selain saham-saham Grup Bakrie, beberapa saham lain juga menjadi top leaders. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) naik 5,84%, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) naik 4,14%, dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) naik 7,81%.

Beberapa saham lain yang ikut menguat antara lain PT Astra International Tbk. (ASII) yang naik 1,49% dan PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang melonjak 8,77%.

Faktor Pendorong Kenaikan IHSG

Tim Riset Phintraco Sekuritas mencatatkan beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG pada perdagangan perdana 2026. Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia turun ke level 51,2 pada periode Desember 2025, turun dari 53,3 pada November 2025. Meskipun demikian, indeks masih menunjukkan adanya ekspansi manufaktur selama lima bulan berturut-turut.

Neraca perdagangan untuk periode November 2025 diprediksi membukukan surplus sebesar US$2,7 miliar, meningkat dari surplus US$2,4 miliar pada Oktober 2025. Data inflasi pada Desember 2025 diperkirakan melambat menjadi 2,5% year on year (YoY) dari 2,72% YoY pada November 2025.

Catatan Penting

Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca tidak menjadi tanggung jawab Dewa News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *