23 April 2026
AA1STbO5.jpg

Forum Ngkaji Pendidikan: Membangun Kembali Sistem Pendidikan Indonesia

Forum Ngkaji Pendidikan yang diadakan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta berhasil menarik lebih dari 500 guru dari berbagai daerah. Acara ini menjadi wadah untuk mendiskusikan arah pendidikan Indonesia dan bagaimana membangun manusia utuh, bukan hanya sekadar menyiapkan tenaga kerja.

Tema “Human & Education Reset”

Founder GSM, Muhammad Nur Rizal, mengangkat tema Human & Education Reset dalam forum ini. Ia menjelaskan bahwa dunia pendidikan sudah terlalu lama terjebak pada perbaikan teknis semata, sementara fondasi kemanusiaan terabaikan.

“Reset bukan restart. Reset berarti menata ulang sistem dengan kembali ke mode dasar manusia: cara berpikir, merasa, dan mengambil keputusan. Krisis hari ini bukan kekurangan teknologi, melainkan krisis nalar dan kebijaksanaan,” tegas Rizal.

Analogi Letusan Gunung Tambora

Untuk mengilustrasikan gagasannya, Rizal mengajak peserta merefleksikan letusan Gunung Tambora pada 1815. Bencana alam itu menjadi malapetaka global karena ketidaksiapan manusia. Analogi ini ditarik ke kondisi deforestasi masif di Sumatra, di mana perubahan paradigma pembangunan melihat hutan sebagai komoditas, bukan sistem ekologis. Hal ini akhirnya memicu banjir bandang dan longsor.

“Data menunjukkan, kerugian ekonomi akibat bencana jauh lebih besar daripada manfaat eksploitasi sumber daya alam. Kita merusak hutan, tapi tidak menjadi kaya, yang kita wariskan justru kerugian,” paparnya.

Fenomena Paradoxical World

Rizal juga menyoroti fenomena Paradoxical World. Di satu sisi, manusia hidup di era kecerdasan buatan (AI) dan teknologi canggih, tetapi di sisi lain, keputusan publik justru semakin mengabaikan data, sains, dan etika.

“AI bukan masalah utamanya, tetapi yang menjadi masalah adalah ketika manusia menyerahkan proses berpikir kepada mesin, padahal mesin belajar dari data masa lalu manusia, termasuk bias dan kesalahan kita,” ujarnya.

Fokus Pendidikan yang Tidak Seimbang

Terkait pendidikan, menurut Rizal, terlalu fokus pada adaptasi teknologi namun mengabaikan bagaimana upaya melatih agar mampu berpikir dengan jernih, membaca realitas, dan mengambil keputusan etis.

“Akibatnya, kecerdasan meningkat, tetapi kebijaksanaan tertinggal,” ungkapnya.

Pendekatan Liberal Arts

Sebagai jalan keluar, Rizal menekankan Education Reset melalui pendekatan liberal arts. Bukan sebagai mata pelajaran baru, melainkan sebagai kerangka berpikir untuk memulihkan trivium yang meliputi logika, bahasa, retorika, dan quadrivium yakni pemahaman numerik serta harmoni alam.

“Liberal arts bukan kurikulum Barat, tetapi merupakan alat untuk memulihkan manusia dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Gagasan ini sejalan dengan Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun manusia agar utuh dan merdeka,” terangnya.

Pengalaman Peserta

Forum Ngkaji Pendidikan yang digelar Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) ini meninggalkan kesan mendalam bagi pesertanya. Salah satu guru dan pegiat GSM dari Pekalongan, Riyanto, menyebut acara ini sebagai refleksi yang jarang didapat dalam pelatihan formal.

“Dari awal sampai akhir tidak ada yang meninggalkan kursi. Acara besar, materi mahal, tapi gratis, dan semua hadir dengan biaya mandiri, bahkan dari luar kota dan luar pulau seperti Tangsel, Bogor, Pangandaran, Kalimantan, hingga Surabaya,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *