Peran Jagung dalam Ketahanan Pangan Sleman
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menegaskan bahwa jagung memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Selain menjadi bahan pangan alternatif, jagung juga menjadi penopang sektor pertanian dan ekonomi masyarakat. Ia menyampaikan pernyataannya saat menghadiri panen jagung bersama Kelompok Tani Ngudi Rejeki di Banyu Urip, Seyegan, Sleman, pada Rabu, 13 November 2025.
“Jagung merupakan komoditas strategis yang sangat berperan dalam mencukupi kebutuhan pangan masyarakat,” ujar Danang.
Menurut data dari Pemerintah Kabupaten Sleman, luas panen jagung pada 2024 mencapai 4.585 hektare dengan produksi total lebih dari 33 ribu kuintal. Produktivitasnya mencapai 73,66 kuintal per hektare. Angka tersebut menunjukkan bahwa Sleman masih memiliki potensi besar untuk mengembangkan jagung sebagai komoditas unggulan daerah.
Danang juga mengapresiasi petani yang terus berinovasi dalam mengembangkan teknik budidaya yang efektif dan efisien. Menurutnya, peningkatan keterampilan dan penggunaan teknologi dalam pertanian bisa membantu petani mencapai keuntungan yang optimal.
“Melalui kegiatan panen bersama ini, pemerintah bisa langsung berdialog dengan petani, mendengar kebutuhan mereka, serta memastikan bantuan pertanian tepat sasaran,” jelasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi seperti ini bukan sekadar seremoni, tapi menjadi bentuk nyata dukungan pemerintah untuk memastikan kesejahteraan petani dan peningkatan produktivitas pertanian di Sleman.
Dukungan dari Pemerintah Daerah
Sementara itu, Supriyono, perwakilan Kelompok Tani Ngudi Rejeki, menyampaikan bahwa pada 2025 kelompoknya menerima bantuan benih jagung Pionir sebanyak dua kuintal (200 kilogram) dari Pemkab Sleman melalui Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan.
Dengan bantuan itu, mereka menanam jagung di lahan seluas 15 hektare di wilayah Banyu Urip. Hasilnya cukup menggembirakan, dengan estimasi produktivitas mencapai 11,14 ton jagung pipil kering.
“Alhamdulillah, hasil panen kali ini sudah bisa dinikmati oleh para petani di kelompok kami,” ujar Supriyono.
Meski begitu, ia menilai masih banyak ruang untuk meningkatkan hasil pertanian. “Masih bisa kita dorong lagi produktivitasnya, baik lewat pemanfaatan teknologi pertanian maupun penerapan teknik budidaya yang lebih tepat,” tambahnya.
Supriyono juga berharap adanya pendampingan berkelanjutan dari pemerintah daerah maupun pusat.
“Kami mohon bimbingan dari Pemkab Sleman, Pemda DIY, dan pemerintah pusat agar produksi pertanian di Banyu Urip terus meningkat,” katanya.
Kunci Utama Pertanian yang Tangguh
Pernyataan kedua tokoh ini menegaskan bahwa sinergi antara petani dan pemerintah menjadi kunci utama dalam mewujudkan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan di Sleman. Dengan inovasi dan dukungan yang tepat, jagung bisa terus tumbuh menjadi andalan baru ketahanan pangan di Yogyakarta bagian utara.