22 April 2026
AA1Qmglb.jpg

Emisi Bahan Bakar Fosil Akan Mencapai Rekor Tertinggi pada 2025

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan oleh Global Carbon Budget menunjukkan bahwa emisi bahan bakar fosil global diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025. Studi ini dirilis di tengah berlangsungnya KTT COP30, sebuah pertemuan penting dalam upaya menghadapi perubahan iklim.

Laporan Global Carbon Budget setiap tahunnya meninjau emisi CO₂ yang masuk ke atmosfer Bumi. Data tersebut mencakup pembakaran hidrokarbon, produksi semen, dan penggunaan lahan seperti deforestasi. Laporan ini selalu membandingkan data dengan ambang batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris 2015, yaitu pembatasan pemanasan global hingga dua derajat Celsius, idealnya 1,5°C dibandingkan tingkat sebelum masa industri.

Tim ilmuwan internasional yang melakukan studi ini menemukan bahwa emisi CO₂ dari bahan bakar fosil akan meningkat sebesar 1,1% pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan peningkatan emisi dari minyak, gas, dan batu bara, angka total akan mencapai rekor 38,1 miliar ton CO₂.

Meskipun penggunaan energi terbarukan terus berkembang di seluruh dunia, hal itu belum cukup untuk menyeimbangkan peningkatan permintaan energi secara keseluruhan. Ini menjadi tantangan besar dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim.

Sisa Jatah Emisi untuk Menjaga Suhu Bumi

Laporan baru ini diterbitkan ketika negara-negara berkumpul untuk pembicaraan iklim COP30 di wilayah Amazon, Brasil. Laporan tersebut memperkirakan sisa jatah sebesar 170 miliar ton CO₂ untuk menjaga pemanasan tetap di angka 1,5°C dibandingkan dengan tingkat praindustri.

“Ini setara dengan empat tahun emisi pada tingkat saat ini sebelum jatah untuk 1,5°C habis, jadi itu mustahil, pada dasarnya,” ujar Pierre Friedlingstein dari Universitas Exeter, Inggris, yang memimpin tim ilmuwan tersebut.

Artinya, jika dunia terus menghasilkan emisi karbon sebanyak sekarang, dalam waktu sekitar empat tahun ke depan jatah emisi agar suhu bumi tidak naik lebih dari 1,5°C akan habis. Setelah itu, akan sangat sulit—bahkan hampir tidak mungkin—untuk menjaga pemanasan global tetap di bawah batas tersebut.

Kegagalan untuk menurunkan emisi penyebab pemanasan planet membayangi pertemuan COP30 di kota hutan hujan Belem.

Kehadiran Amerika Serikat di KTT Iklim

Ketidakhadiran Amerika Serikat di KTT iklim bukanlah hal yang mengejutkan. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim tersebut berlangsung minggu ini tanpa kehadiran Amerika Serikat, negara pencemar terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Washington tidak mengirim tim tingkat tinggi ke KTT iklim COP tahun ini di Belem, Brasil. Komunitas global sudah memperkirakan hal itu setelah Presiden AS Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Paris untuk kedua kalinya, memangkas pendanaan untuk energi terbarukan, mendukung proyek bahan bakar fosil, dan mengatakan kepada para pemimpin dunia di Sidang Umum PBB pada bulan September bahwa perubahan iklim adalah “penipuan terbesar yang pernah dilakukan terhadap dunia.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *