25 April 2026
6433765373_06dca2181a_n.jpg

Siswa SMA 3 Muhammadiyah Jember Kembali Demo Tolak Perpanjangan Jabatan Kepala Sekolah

Siswa SMA 3 Muhammadiyah Jember, Jawa Timur kembali menggelar aksi penolakan terhadap perpanjangan jabatan kepala sekolah. Aksi ini berlangsung pada Kamis sore (30/10/2025) dan diikuti oleh sejumlah peserta yang merasa tidak puas dengan kebijakan yang diambil oleh pihak sekolah.

Massa aksi membawa kertas manila bertuliskan “Tolak Sony Bahtiar” sebagai simbol penolakan terhadap kepala sekolah yang saat ini menjabat. Menurut Slamet Ruspandri Raharjo, salah satu peserta demo, aksi ini dilakukan karena selama empat tahun menjabat sebagai kepala sekolah, Sony Bahtiar dinilai tidak transparan dalam pengelolaan anggaran pendidikan.

“Setiap kami tanya mengenai anggaran dan keputusan lainnya, jawabannya pasti bukan urusan kalian, gitu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa aksi ini adalah yang kedua kalinya dilakukan oleh siswa sekolah swasta ini. Sebelumnya, massa juga melakukan demo terkait pergantian guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN).

Menurut Slamet, pergantian guru PKN dilakukan tanpa musyawarah dengan guru-guru yang lain. Alasannya pun dinilai tidak masuk akal. Ia menjelaskan bahwa guru yang diganti adalah seorang guru perempuan yang memiliki latar belakang ilmu sejarah, bukan bidang PKN. Hal ini membuat siswa merasa tidak nyaman dalam proses belajar.

“[Guru pengganti] tidak profesional di bidang PKN. Akhirnya kami sebagai murid tidak terima karena berdampak pada belajar kami. Akhirnya kami demo,” tutur Slamet, yang juga menjabat sebagai Ketua Organisasi Tapak Suci SMA 3 Muhammadiyah Jember.

Namun, ketika pemilihan kepala sekolah baru dilakukan, ternyata Sonny Bahtiar kembali menjabat sebagai pimpinan lembaga pendidikan swasta ini. Hal ini memicu kembali aksi demo yang dilakukan oleh siswa.

Slamet mengungkapkan bahwa massa mendesak agar pengurus Pimpinan Daerah dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur mengganti kepala sekolah tersebut. “Kami minta kepala sekolah diganti, agar kami nyaman belajar, dan adik-adik kami bisa aman. Tidak ada lagi keputusan tidak jelas lagi,” kata siswa kelas XII ini.

Kepala Sekolah Membantah Tuduhan Tak Transparan

Menanggapi hal ini, Kepala SMA 3 Muhammadiyah Sony Bahtiar menilai adanya penolakan tersebut sebagai bagian dari dinamika organisasi pendidikan. “Bagian dinamika internal dan akan kami selesaikan secara internal. Kami tidak tahu persis apa yang terjadi, kok tiba-tiba anak-anak juga terlibat,” tanggapnya.

Sony membantah tuduhan ketidaktransparanan keuangan sekolah, sebab selama ini rutin diaudit oleh tiga lembaga sekaligus. “Pertama kami diperiksa Inspektorat Kemendiknas, inspektorat Provinsi dan dari internal Muhammadiyah melalui internal audit. Dan tidak ada masalah,” bantahnya.

Sementara mengenai penonaktifan guru PKN, Sony menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan secara prosedur internal lembaga pendidikan Muhammadiyah. “Karena pimpinan memberikan sanksi dan semacamnya, saya rasa wajar di semua lembaga. Dan hal itu berdasarkan surat resmi dari pimpinan,” ulas Sony.

Persoalan yang Terus Berlanjut

Aksi penolakan terhadap kepala sekolah ini menunjukkan bahwa masalah yang muncul tidak hanya terkait dengan kebijakan pengelolaan anggaran, tetapi juga tentang komunikasi antara pihak sekolah dan siswa. Dalam beberapa kali aksi, siswa menyampaikan keluhan mereka secara langsung, termasuk soal perubahan kebijakan yang dianggap tidak sesuai dengan harapan mereka.

Masalah seperti pergantian guru tanpa musyawarah, keputusan sepihak, dan kurangnya transparansi dianggap sebagai faktor utama yang memicu protes. Dengan adanya aksi ini, diharapkan pihak sekolah dapat lebih responsif terhadap aspirasi siswa, serta meningkatkan partisipasi dalam pengambilan keputusan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *