23 April 2026
AA1FainL.jpg

Dewa News – Angin pagi di Queens masih menyimpan angin musim semi ketika seorang pemuda berdiri di sebuah ruang pertemuan kecil di Hillside. Suaranya tenang, matanya menyala. Di depannya duduk puluhan orang dari berbagai latar: imigran, pekerja harian, aktivis, ibu-ibu rumah tangga. Nama yang masih asing bagi sebagian besar warga New York: Zohran Mamdani.

Yang bahkan membuat sebagian orang tersentak—adalah bahwa hari itu, Zohran Mamdani menyatakan akan maju sebagai calon walikota New York dari Partai Demokrat.

Seorang pemuda Muslim, keturunan India-Uganda, anak imigran yang tiba di Amerika pada usia tujuh tahun. Dan ya, ia bukan hanya bermodal idealisme.

Ketika ayat dan aksi bertemu di lorong-lorong New York

Pertemuan itu dihadiri oleh Imam Shamsi Ali, diaspora Indonesia asal Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang kini dikenal sebagai salah satu tokoh Muslim paling berpengaruh di Amerika Serikat.

“Sekitar akhir Oktober tahun 2024 lalu saya diundang hadir dalam sebuah pertemuan kecil di kawasan Hillside Queens, New York. Saya diberitahu bahwa acara ini diadakan sebagai ajang pengenalan salah seorang calon walikota New York, Zohran Mamdani,” ungkap Shamsi Ali dalam wawancara daring dengan pada Kamis, 26 Juni 2025.

Imam Shamsi Ali mengenal Zohran karena telah beberapa kali hadir di Masjid Jamaica Muslim Center, baik pada Sholat Jumat maupun Idul Fitri dan Idul Adha.

“Yang mengejutkan saya adalah ketika mengetahui Zohran Mamdani akan maju menjadi salah seorang calon walikota New York dari Partai Demokrat,” ujarnya.

Imam Shamsi Ali bukan hanya hadir sebagai tamu, tapi membawa serta suara hati umat yang kerap terpinggirkan. Dalam sambutannya, ia mengutip Surah Thaha ayat 42:


“Idzhab anta wa akhuka bi aayaatii wa laa taniyaa fii dzikrii”


“Pergilah engkau (Musa) bersama saudaramu (Harun) dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dari mengingat-Ku.”

Bagi Imam Shamsi, ayat itu bukan sekadar teks kitab suci, tapi “peta jalan spiritual dalam menghadapi kekuatan opresif zaman modern.”

“Saya sampaikan dalam forum itu, bahwa politik hari ini perlu energi moral, bukan hanya strategi elektoral. Dan Zohran, dengan semangatnya, saya rasa membawa keduanya,” ungkapnya.

Ia mengartikan seruan “izhab anta bi ayaati” sebagai ajakan membangun pergerakan terstruktur yang melawan kekuasaan menindas—seperti Fir’aun di masa Musa. Dan tanpa diduga, Zohran seperti mengambil pesan itu secara harfiah—mengubahnya menjadi arah perjuangan.

Kemenangan politik tanpa oligarki

Kampanye Zohran bukan sekadar pencitraan, melainkan pergerakan akar rumput yang dibangun dalam tujuh bulan. Dari popularitas tak lebih dari 1%, ia menjadi front runner, hingga akhirnya menang di Primary Election Partai Demokrat.

Yang ia kalahkan bukan tokoh biasa: Andrew Cuomo, mantan Gubernur New York berdarah Italia, sosok kuat dengan dukungan penuh dari Bill Clinton, Michael Bloomberg, dan para elite politik Demokrat.

Namun malam itu, perhitungan suara mengabarkan sesuatu yang mengejutkan: Zohran Mamdani menang telak, dengan selisih suara signifikan di hampir semua distrik minoritas. Sebagian media menolak mengakui kemenangan itu sebagai buah perjuangan.

Analisa New York Times, misalnya, menyebut: “Ini lebih karena kampanye Cuomo yang lemah, bukan kekuatan Mamdani.”

Namun Imam Shamsi menanggapi itu dengan tenang.

“Saya melihatnya bukan sebagai keajaiban politik, tapi buah dari kesungguhan, dari keikhlasan dan keberanian anak muda menghadapi tembok kekuasaan.”

6 pilar kemenangan Zohran Mamdani

Imam Shamsi Ali mengungkapkan enam pilar kemenangan Zohran Mamdani.

1. Momentum sosial-politik

Bangkitnya kesadaran kolektif atas ketidakadilan global, termasuk kekejaman ‘Israel’ di Gaza, serta bangkitnya gerakan anti-otoritarianisme membuat posisi Zohran relevan.

2. Krisis sosial ekonomi  kota

Ketimpangan semakin menganga. Warga New York hidup dalam ketidakpastian: sewa rumah naik, ongkos hidup tak terjangkau. Zohran datang membawa agenda konkrit: pembekuan sewa (rent freeze), transportasi publik gratis, dan childcare universal.

3. Kebangkitan generasi muda

Dengan usia 33 tahun, Zohran mewakili generasi yang muak pada dominasi politisi tua. 60 persen pemilih di New York adalah millennial, dan Zohran menjadi simbol harapan mereka.

4. Kesadaran politik komunitas imigran

Trump mungkin sudah lengser, tapi bayang-bayang kebijakannya masih membekas. Zohran, sebagai anak imigran, menjadi cermin dari harapan dan trauma komunitas ini.

5. Kebangkitan suara Muslim

Dengan lebih dari 1 juta Muslim di NYC, dan 200.000 di antaranya pemilih Demokrat, untuk pertama kalinya suara Muslim bersatu. Masjid-masjid menyediakan kendaraan ke TPS, jamaah hadir berbondong-bondong. Kata Imam Shamsi:

“Kalau dulu kami memilih karena tekanan sosial, sekarang kami memilih karena kesadaran politik. Zohran mengubah cara kami melihat demokrasi.”

6. Faktor Zohran sendiri

Banyak yang menyebut ia minim pengalaman. Tapi seperti dikatakan Shamsi Ali: “Pengalaman bukan tentang durasi jabatan, tapi kapabilitas, integritas, dan kapasitas untuk mendengar rakyat.”

Perjuangan belum selesai

Kemenangan ini baru permulaan. Pemilihan umum (general election) masih menanti. Namun satu pintu telah dibuka, dan sejarah telah mencatatnya: seorang anak muda Muslim imigran, melenggang tenang menuju garis terdepan politik Amerika.

Di akhir pernyataannya, Imam Shamsi Ali menutup dengan doa dan keyakinan:

“Dalam Al-Qur’an disebut, Engkaulah yang memberi kekuasaan kepada siapa yang Kau kehendaki. Dan jika Tuhan berkehendak, nama Zohran Mamdani akan tertulis di sejarah New York sebagai wali kota Muslim pertama, anak imigran, anak zaman.”

Dan untuk Cuomo, kata Imam Shamsi Ali dalam penutupnya yang hangat tapi tajam: “Ingat baik-baik. Namanya Zohran Mamdani. Get it right!”***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *